etika pengalihan kesadaran ke komputer

apakah salinan digital itu benar-benar anda

etika pengalihan kesadaran ke komputer
I

Mari kita bayangkan sebuah skenario yang mungkin tidak lagi sekadar fiksi ilmiah. Kita sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Napas sudah berat. Tubuh biologis kita sudah menyerah. Tapi, di sebelah kita ada seorang teknisi dengan layar komputer dan kabel-kabel elektroda. Ia menempelkan alat itu ke kepala kita. Ia menekan tombol enter. Layar menunjukkan bilah progres: 10 persen, 50 persen, hingga 100 persen. Tiba-tiba, mata biologis kita tertutup untuk selamanya. Namun di saat yang sama, kita "terbangun" di sebuah dunia virtual yang indah. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada penuaan. Kita hidup abadi di dalam server. Terdengar seperti akhir yang bahagia, bukan? Tapi mari kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Pernahkah kita memikirkan satu hal yang mengerikan ini: apakah entitas yang terbangun di dalam komputer itu benar-benar kita? Atau jangan-jangan, kita sebenarnya sudah mati, dan yang hidup itu hanyalah orang asing yang kebetulan memiliki ingatan kita?

II

Untuk menjawab misteri itu, kita harus membedah apa yang sebenarnya membuat kita menjadi "kita". Sepanjang sejarah, manusia selalu terobsesi dengan keabadian. Orang Mesir kuno membuat mumi. Raja-raja Tiongkok mencari ramuan hidup abadi. Kini, para penganut transhumanism di Silicon Valley percaya bahwa masa depan keabadian ada pada cip komputer. Secara ilmiah, memori, kepribadian, dan rasa humor kita bukanlah keajaiban magis. Semuanya berasal dari 86 miliar neuron di otak kita yang saling terhubung membentuk triliunan sinapsis. Jaringan maha rumit ini disebut sebagai connectome. Secara teoretis, jika teknologi masa depan bisa memindai seluruh connectome ini hingga ke tingkat molekuler, kita bisa membuat simulasi digital otak tersebut di komputer. Logika sederhananya: jika struktur fisiknya sama persis, maka kesadaran yang muncul pasti sama persis. Secara psikologis, ini masuk akal. Karakter kita terbentuk dari pengalaman. Jika pengalaman itu disalin utuh, maka hasilnya adalah kita. Tapi, di sinilah sains mulai berbenturan dengan etika.

III

Sekarang, mari kita masuk ke dalam eksperimen pikiran yang sedikit mengganggu. Bayangkan teknologi pemindaian otak ini sudah sangat canggih dan aman. Proses pemindaiannya tidak merusak otak asli kita. Jadi, kita duduk di kursi, alat itu menyala, dan zap! Data otak kita berhasil disalin ke dalam komputer. Masalahnya, tubuh biologis kita masih hidup. Kita masih duduk di kursi itu, bernapas, dan sadar. Sementara itu, di layar monitor di depan kita, versi digital kita baru saja menyapa, "Halo dunia!" Nah, teman-teman, mari kita berpikir kritis. Sekarang ada dua kesadaran. Keduanya merasa sebagai individu yang asli. Keduanya memiliki ingatan dicium ibu saat TK dan ingatan patah hati saat SMA. Jika tubuh biologis kita tiba-tiba dicubit dan merasa sakit, apakah versi digital di layar itu ikut mengaduh? Tentu saja tidak. Ini membuka kotak pandora yang membuat para ahli filsafat dan ilmuwan pusing kepalang. Jika ada dua "kita", lalu siapa pemilik sah rekening bank kita? Siapa yang berhak atas pasangan hidup kita? Dan yang paling penting: di mana letak kesadaran saya yang sedang membaca tulisan ini?

IV

Inilah realitas sains yang paling mengejutkan sekaligus meremukkan hati. Dalam dunia komputasi, sebenarnya tidak pernah ada konsep move atau memindahkan. Coba perhatikan saat kita memindahkan fail di laptop. Sistem komputer selalu melakukan proses copy (menyalin), paste (menempel), lalu delete (menghapus) fail aslinya. Pengalihan kesadaran ke komputer tidak akan pernah menjadi sebuah "perpindahan jiwa". Itu hanyalah proses copy-paste. Fakta ilmiahnya, tubuh dan kesadaran biologis kita tidak pergi ke mana-mana. Ketika kita menekan tombol upload di ranjang rumah sakit tadi, kesadaran asli kita tetap akan merasakan kegelapan dan kematian. Kita benar-benar mati. Titik. Lalu siapa yang terbangun di server? Ia adalah kloning psikologis yang sangat sempurna. Salinan digital itu akan bangun, melihat ke sekeliling, dan merasa bahwa proses uploading tadi berhasil. Ia akan tersenyum dan merasa dirinya adalah kita. Ia tidak tahu bahwa ia hanyalah sebuah perangkat lunak yang baru saja lahir detik itu juga. Kesinambungan kesadaran kita telah terputus secara permanen. Keabadian digital itu nyata, tapi sayangnya, kita tidak akan ada di sana untuk menikmatinya.

V

Pada akhirnya, obsesi kita terhadap pengalihan kesadaran ini membuka satu cermin besar tentang psikologi manusia. Kenapa kita sangat ingin mengunggah diri kita ke mesin? Jawabannya berakar pada ketakutan paling purba yang kita miliki: rasa takut akan perpisahan. Kita takut kehilangan memori manis, takut meninggalkan orang-orang yang kita cintai, dan takut akan ketiadaan. Namun, mungkin di situlah letak keindahan dari menjadi manusia yang berbasis karbon. Kerapuhan kitalah yang memberi makna pada waktu. Karena kita tahu hidup ini ada batasnya, kita jadi lebih menghargai pelukan dari sahabat, secangkir kopi di pagi hari, dan tawa orang-orang terdekat. Kesadaran kita bukanlah sekadar data yang bisa disalin ke dalam flash drive. Ia adalah sebuah perjalanan organik yang terikat pada ruang, waktu, dan daging. Jadi, teman-teman, jika suatu saat nanti ada perusahaan teknologi yang menawarkan tiket menuju keabadian di dalam komputer, kita sudah tahu rahasia besarnya. Biarkan salinan digital itu hidup di dalam server. Tugas kita yang sebenarnya adalah hidup sepenuh-penuhnya di dunia nyata ini, selagi sistem biologis kita masih menyala.